Rabu, 18 Mei 2016

Sistem Ekonomi Islam vs Sistem Ekonomi Kapitalis dan Sosialis

Islam adalah agama yang sempurna. Semua hal dalam hidup ini diatur oleh Islam. Mulai dari hal kecil seperti tata cara makan sampai perkara besar semisal mengatur negara. Hal ini menunjukkan bahwa Islam bukan sekedar agama dalam pengertian sempit, namun Islam adalah sistem yang mengatur seluruh aspek dalam kehidupan.

Salah satu aspek dalam kehidupan yang diatur oleh Islam adalah dunia ekonomi. Maka tidak mengherankan jika ada istilah ekonomi Islam yang memiliki konsep berbeda dengan sistem ekonomi kapitalisme maupun sosialisme. 

Dalam ekonomi Islam, landasan yang dipakai adalah akidah Islam. Sehingga sumber ilmu ekonomi Islam bukan hanya panca indera dan akal saja, melainkan juga ilmu-ilmu yang datang datang Allah dan Rasul-Nya (wahyu). 

Dr. Ugi Suharto, mahasiswa ekonomi terbaik di IIUM pada 1990 dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam, Islamia menjelaskan bahwa dalam ekonomi Islam, panca indera diakui sebagai sumber ilmu, sehingga ilmu-ilmu yang berasal dari observasi dan penelitian manusia tidaklah ditolak, semisal hukum penawaran dan permintaan (law of supply and demand). 

Begitu juga dengan akal yang sehat juga diterima sebagai sumber ilmu, sehingga ilmu  seperti statistika, matematika ekonomi, ekonometrika, dan lain-lain juga dipakai.

Namun dalam ekonomi Islam,  ilmu yang berasal dari nabi juga diterima; seperti larangan riba, perintah membayar zakat, dan lain-lain. Hal itu dikarenakan, umat Islam percaya bahwa balasan di akhirat lebih berharga dan pasti, sementara dunia ini hanyalah medan ujian. Umat Islam juga percaya bahwa malaikat akan selalu mencatat setiap perilaku ekonomi yang dia lakukan, sehingga seorang muslim yang baik akan memiliki economic behavior (perilaku ekonomi) yang lebih baik daripada orang yang tidak percaya bahwa malaikat mencatat apa yang dia lakukan. 

Karena ekonomi Islam juga menerima wahyu sebagai sumber ilmu, maka ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang berdiri tegak berhadapan dengan sistem ekonomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis yang keduanya terbukti memiliki banyak kerapuhan. Sistem ekonomi Islam memiliki perbedaan yang mendasar dengan kedua sistem ekonomi tersebut.

Pada ekonomi kapitalis, hak kepemilikan harta merupakan sesuatu hal yang mutlak, tanpa memandang cara mendapatkan maupun penggunaannya. Setiap orang diberi kebebasan penuh dalam menumpuk kekayaan. Hal ini mengakibatkan tidak adanya rasa peduli antar sesama dan akhirnya terjadi ketimpangan dalam masyarakat. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Kedzaliman yang ditimbulkan dalam sistem ekonomi kapitalis memicu lahirnya sistem ekonomi sosialis. Namun alih-alih memberikan solusi, sistem ekonomi yang dicetuskan oleh Karl Marx ini justru menimbulkan masalah baru. Dalam ekonomi sosialis, kepemilikan harta dikuasai sepenuhnya oleh negara sedangkan kepemilikan individu tidak diakui. Hal ini mengakibatkan hilangnya kebebasan individu dalam memiliki harta dan kekayaan. Dampak lainnya adalah, hasrat dan fitrah manusia dalam berkreasi dan beraktivitas ekonomi dibunuh oleh sistem ekonomi ini.

Berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis yang memberikan kebebasan sebebas bebasnya dalam menumpuk kekayaan, dalam Islam seseorang memang boleh menjadi orang kaya namun dibatasi agar tidak terjadi kesenjangan yang teramat jauh dengan orang miskin. Di antara bentuk pembatasan tersebut misalnya, ada tiga jenis sumber ekonomi yang tidak diboleh dikuasai perseorangan, melainkan harus dimiliki dan dikuasai oleh negara. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda, “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal; air, rumput dan api” (HR.  Ibnu Majah No.2463). Dalam konteks sekarang, ketiga jenis sumber ekonomi ini tersebut bisa bermakna sungai,  lautan, danau,  hutan, minyak bumi, gas alam, batu bara, tambang jalan, jembatan, bukit, pulau dan sebagainya.

Ekonomi Islam juga berbeda dengan ekonomi sosialis yang berupa menghapus istilah kaya dan miskin. Dalam Islam, seseorang tetap diberi kebebasan untuk menjadi orang kaya. Namun seseorang yang kaya (di mana hartanya mencapai nisab) memiliki kewajiban membayar zakat yang diperuntukkan untuk si miskin. Dengan cara ini, akan timbul dalam diri orang kaya rasa sosial dan empati yang tinggi. Sehingga semakin kaya seseorang, semakin besar jasanya dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Semakin banyak orang membayar zakat, maka jumlah orang miskin semakin berkurang bahkan tidak ada lagi yang berpredikat miskin. Hal itu terbukti  pada era khalifah Umar bin Abdul Aziz, di mana semua masyarakat sudah tidak ada orang miskin yang layak menerima zakat.

Dalam sistem ekonomi kapitalis dan sosialis, sama-sama menjunjung tinggi paham materialisme dalam setiap aktivitas ekonomi. Sehingga keberadaan materi (uang/harta) menjadi tolak ukur yang paling utama dan mengabaikan aspek lainnya. Ukuran kebahagiaan diukur dengan banyak sedikitnya harta yang dimiliki. 

Sementara dalam sistem ekonomi Islam, lebih menekankan kepada ekonomi kebahagiaan (sa’adah) dan bukan menekankan pada ekonomi kekayaan. Orang miskin bisa bahagia sebagaimana orang kaya, karena materi (uang/harta) bukanlah tujuan utama dalam hidup ini.

Sistem ekonomi Islam memandang dunia sebagai perantara dalam mencapai tujuan sebenarnya, yaitu akhirat. Sehingga setiap aktivitas ekonomi yang dilakukan bertujuan mencari falah (keberuntungan) yang sebesar-besarnya meskipun hanya menghasilkan keuntungan duniawi yang terkecil (M. Nur Rianto Al-Arif, Dasar-dasar Ekonomi Islam, hal. 77). 

Dari keterangan di atas, menunjukkan bahwa  sistem ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang seharusnya diterapkan, terutama oleh kaum muslimin. Karena baik ekonomi kapitalis dan sosialis memiliki banyak kerapuhan dalam banyak aspek dan menimbulkan masalah besar dalam hidup ini.


Surabaya, 19 Mei 2016

Minggu, 15 Mei 2016

Pemasaran

Apa yang kita pahami ketika mendengar kata pemasaran? Mungkin kita langsung berpikiran bahwa pemasaran berarti menjual, mengiklankan, atau menawarkan suatu barang kepada orang lain.

Benarkah pengertian pemasaran seperti demikian? Jawabannya benar, tapi pengertian semacam ini adalah pengertian yang kuno. Di zaman modern, pemasaran tak lagi bermakna seperti itu. Pemasaran edisi modern lebih kompleks dari sekedar menjual, mengiklankan atau menawarkan suatu barang. Ketiga aktivitas tersebut hanyalah komponen kecil dalam aktivitas pemasaran.

Lantas, apa pengertian pemasaran edisi modern?

Menurut Philip Kotler, penulis yang terkenal di dunia dalam dunia pemasaran, menjelaskan dalam bukunya yang berjudul “Principles of Marketing”  bahwa pemasaran dalam pemahaman modern adalah memuaskan kebutuhan pelanggan.

Pemasaran bermakna suatu proses di mana perusahaan menciptakan nilai bagi pelangggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan, dengan tujuan menangkap nilai dari pelanggan sebagai imbalannya.

Dari sinilah kemudian bisa dipahami bahwa penjualan dan iklan hanyalah bagian dari pemasaran. Keduanya hanyalah puncak dari gunung es pemasaran.

Ya, begitulah.


Surabaya, 27 Januari  2016




Investasi

Saya ingin berbagi pengalaman tentang investasi dalam hidup saya. Sungguh, pengalaman ini sangatlah kecil jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang sudah berinvestasi dalam jumlah yang sangat besar. Namun saya ingin tetap berbagi di sini, dengan harapan ada yang terinspirasi. Tapi harapan lainnya adalah agar saya semakin termotivasi untuk melakukan investasi.

Ceritanya begini, dulu saya – alhamdulillah - pernah mendapat beasiswa. Karena saya waktu itu baru menyelesaikan membaca buku berjudul “Guru Goblok Ketemu Murid Goblok” tulisan Imam Supriyono, saya bersemangat sekali untuk menggunakan uang beasiswa itu untuk berinvestasi.

Singkat cerita, akhirnya uang dari beasiswa itu saya gunakan untuk membeli 2 ekor anak sapi yang sangat kecil. Kemudian kedua ekor anak sapi itu saya titipkan di dua bibi saya. Memang, selain berniat investasi saya juga ingin membantu mereka berdua. Karena dengan mengembalakan anak sapi saya maka mereka juga ikut merasakan manfaat dari anak sapi tersebut.

Ada teman saya yang bilang, beasiswa kok dibuat beli sapi, bukannya dibuat biaya kuliah atau beli buku. Saya pun menjawab, bahwa hasil investasi anak sapi saya ini akan saya gunakan untuk biaya kuliah S2 atau S3 nantinya. Dan, alhamdulillah, beberapa kali bibi saya menjual anak sapi itu, lalu mengambil keuntungannya. Saya pun mengambil juga keuntungan dari penjualan anak sapi itu. Kemudian sisa dari penjualan anak sapi itu dibelikan anak sapi yang baru. Jadi investasi anak sapi tetap berjalan. Alhamdulillah.

Dan alhamdulillah, modal dari pembelian anak sapi itu sudah kembali dan saya pergunakan untuk tambahan biaya kuliah S2 saya. Adapun kegiatan beternak anak sapi tersebut masih tetap berjalan. Coba beasiswa tersebut saya gunakan untuk membayar biaya kuliah tanpa saya investasikan, maka tidak akan ada sisanya. Namun dengan dinvestasikan, alhamdulillah uang dari beasiswa itu masih ada berupa anak sapi. Kelak, bisa jadi saya mengambil lagi keuntungan dari investai tersebut untuk biaya kuliah S2 saya yang belum selesai atau bahkan S3 saya nanti. Amiin.

Alhamdulillah, saya sudah merasakan manfaat dari investasi. Tanpa bersusah payah beternak sapi, saya bisa mendampatkan keuntungan dari beternak sapi. Itu karena saya mempraktekkan investasi. Tapi tentu saja ini terjadi karena pertolongan Allah.

Semoga tulisan ini menginspirasi, minimal untuk diri saya sendiri.



Surabaya, 26 Januari  2016



Berdagang

Pernahkah kita mendengar sebuah penjelasan dari nabi, bahwa 9 dari 10 pintu rizki adalah berbisnis atau berdagang? Kalau kita melihat dalam realita kehidupan, memang demikian adanya. Sungguh benar ucapan Rasulullah Saw, maha benar Allah. Orang-orang terkaya di zaman kini pun berasal dari kalangan pebisnis, bukan pegawai.

Namun tahukah kita bahwa dalam al-Quran Allah menjelaskan bahwa hidup adalah berdagang atau berada dalam aktivitas dagang. Di antara contohnya adalah dalam surat al-Baqarah, juz satu  halaman kedua. Disebutkan bahwa orang-orang kafir adalah jenis manusia yang perdagangan mereka dengan Allah tidak beruntung sehingga mereka dimasukkan ke neraka. Ada juga keterangan bahwa Allah membeli jiwa-jiwa para mujahid yang berperang di jalan Allah. Ini menunjukkan bahwa ada aktivitas membeli dan menjual. Ada keuntungan juga. Ini semua adalah aktivitas dagang.

Jadi bisa dikatakan bahwa kegiatan ekonomi tidak hanya antara manusia dengan manusia, namun juga antara manusia dengan Allah. Kita “menjual” 3 hal kepada Allah (berdasarkan surat al-‘ashr), yaitu iman, amal shaleh, dan kegiatan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Dengan perdagangan ini kita akan mendapat laba yang banyak dan terhindar dari kerugian hidup. Lantas dengan apa Allah ‘membayar’? Allah ‘membayar’ dengan surga-Nya. Subhanallah.

Semoga kita mampu menjadi “pedagang” yang sukses dan memperoleh keuntungan yang besar, sehingga kita akan diganjar dengan surga-Nya. Amin.



Surabaya, 24 Januari  2016












Sabtu, 16 Januari 2016

Alasan Ingin Menjadi Orang Kaya

Banyak orang ingin menjadi orang kaya. Namun banyak juga yang orientasinya salah. Orientasinya hanya bersifat materi dan duniawai. Tidak ada aspek ruhani dan ukhrawi. Padahal Allah menuntun kita untuk meneladani para pahlawan ekonomi semisal 2 sahabat nabi, Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin ‘Auf. Mereka kaya, tapi kekayaan mereka digunakan untuk memperjuangkan Islam.

Kita sebagai umat Islam hendaknya juga memiliki spirit itu. Motivasi kita menjadi orang kaya seharusnya benar. Motivasi kita bukan saja karena diri-sendiri atau keluarga. Motivasi dan spirit kita untuk menjadi orang kaya adalah karena Islam, karena agama tercinta ini. Kaya sosial, bukan kaya pribadi. Kaya dermawan, bukan kaya pelit.

Saya pernah mendengar cerita motivasi dari seorang motivator yang berasal dari pesantren entrepeneur. Dia bercerita bahwa tatkala mengisi sebuah acara motivation training, ia bertanya kepada peserta berapa jumlah penghasilan yang ingin mereka dapatkan setiap bulan.
Di antara peserta ada yang menjawab bahwa dia tidak tahu berapa jumlah penghasilan yang ingin dia dapatkan. Tapi yang jelas dia ingin mendirikan sebuah pesantren khusus anak yatim. Mereka semua digratiskan dalam menuntut ilmu. 

Subhanallah. Jadi peserta training itu ingin menjadi orang kaya, tapi hartanya dia ingin gunakan untuk menghidupi anak-anak yatim. Dia tidak ingin menjadi orang egois yang ingin menikmati kekayaannya sendirian.

Bagaiaman dengan kita? Apa tujuan kita untuk menjadi orang kaya?


Surabaya, 12 Januari  2016











Senin, 11 Januari 2016

Waktu Tepat Menjadi Pengusaha

Kapan waktu yang tepat menjadi pengusaha? Pertanyaan itu mungkin muncul dalam diri kita. Pertanyaan ini wajar muncul karena para pengusaha yang kita kenal di dunia bermacam-maca. Ada yang memulai usahanya sejak kecil. Ada yang mengawali saat remaja. Ada yang baru buka toko sewaktu umur 20-an. Ada yang 30-an. Dan ada juga yang baru terjun ke dunia bisnis ketika berumur 40-an.

Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada saya, maka saya akan menjawab bahwa tergantung kepada orangnya masing-masing. Kalau memang memungkin sejak kecil dan remaja, silahkan. Jika memulai bisnis sejak berumur 20-an juga silahkan. Pun ter,asuk ketika terjun di dunia bisnis sejak berumur 30-an dan 40-an. Tidak ada masalah. Sesuai dengan kondisi dan situasi.

Sebenarnya menurut saya yang paling penting bukan kapan kita memulai bisnis. Karena kesempatan setiap manusia berbeda-beda. Yang paling penting adalah menjaga semangat untuk berbisnis agar tidak raib dari hati. 

Jadi bisa saja kita memang belum memulai bisnis. Namun dalam diri kita terdapat keinginan yang kuat. Maka yang harus kita lakukan adalah menunggu kesempatan yang ada dan melihat-lihat peluang yang bisa diambil sambil lau kita mengumpulkan modal.

Hm...semoga kita menjadi pengusaha, pengusaha yang sukses. Amiin.




Surabaya, 11 Januari  2016









Jumat, 08 Januari 2016

Bisnis; antara Duniawi dan Ukhrawi


Kegiatan bisnis adalah kegiatan yang mungkin dianggap sebagai kegiatan duniawi. Apa itu benar? Jawabannya ada 2, bisa benar dan bisa salah. Kenapa benar? Karena seseorang yang berbisnis, biasanya sangat mencintai pekerjaannya ini sehingga lupa untuk melaksankan shalat, baca al-Quran, dan lain-lain. Selain itu, pebisnis semacam ini tidak mau menginfakkan hartanya di jalan Allah. Dia enggan mengeluarkan sedekah karena dipandang bahwa sedekah itu hanyalah aksi membuang uang.

Jawaban kedua dari pertanyaan di atas adalah, tidak benar bahwa kegiatan berbisnis semata-mata untuk duniawi. Sudah teramat banyak bukti yang bisa kita jadikan argumen. Banyak para pengusaha-pengusaha muslim yang ternyata shalatnya rajin, rajin bersedekah, dan lain-lain. Mereka juga menjadikan usaha bisnisnya untuk kepentingan akhiratnya. Karena mereka yakin bahwa kekayaan bisa menyebabkan seseorang meraih kenikmatan di surga.

Jadi kegiatan bisnis bisa menjadi kegiatan yang hanya bersifat duniawi, bisa juga menjadi kegiatan ukhrawi. Tergantung orangnya masing-masing. 

Bagaimana dengan kita? Kita termasuk yang mana?

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjadikan segala sesuatu berdimensi ukhrawi. Amiin.


Surabaya, 8 Januari  2016






Rabu, 06 Januari 2016

Kaya dan Shaleh


Apakah banyak orang kaya di dunia ini? Iya, banyak. Apakah banyak orang shaleh di planet bumi ini? Mungkin. Apakah banyak orang kaya sekaligus shaleh di jagat raya ini? Sedikit.

Ya, tidak banyak orang yang kaya namun pada sisi yang lain dia shaleh. Yang ada biasanya shaleh tapi miskin atau kaya tapi tidak shaleh. Itulah fakta yang ada di hadapan kita.

Namun juga ada yang begini. Seseorang yang shaleh namun dia tidak mau menjadi kaya karena khawatir kekayaan itu akan menyebabkan dia lalai kepada Allah. Itu sebenarnya sah-sah saja. Akan tetapi kalau semua orang bersikap seperti itu, maka tentunya kurang bagus. 

Justru sebenarnya, orang-orang shalehlah yang harusnya kaya. Kenapa? Karena kalau yang kaya adalah orang shaleh, maka hartanya digunakan untuk perjuangan Islam. Harta itu akan digunakan untuk bersedejah kepada fakir miskin, membangun masjid, dan lain-lain.

Namun sayangnya, banyak orang yang shaleh tapi tidak mau kaya. Ada juga yang kaya tapi tidak mau shaleh.

Kalau kita termasuk yang mana?? ;)




Surabaya, 7 Januari  2016